Merekonstruksi Kesuksesan

Kita sering sekali berbicara mengenai kesuksesan. Melihat, mempertanyakan, menilai, atau menyebarkan kabar mengenai kesuksesan seseorang. Pada budaya kita, kadang kita mengatakan apakah dia sudah “jadi orang” atau belum. Menurut KBBI, ‘sukses’ didefinisikan sebagai sebuah ‘keberhasilan’. Selain itu, Oxford Dictionary Online menjelaskan bahwa ‘success’ adalah “the accomplishment of an aim or purpose”. Definisi dan penjelasan dalam kamus tersebut sangat umum dan relatif. Tidak ada tolok ukur atau batasan yang jelas terhadap kesuksesan itu sendiri. Ketika bicara mengenai kesuksesan, apakah kita bicara mengenai kesuksesan secara umum di seluruh aspek kehidupan atau bicara mengenai kejadian-kejadian spesifik yang kita alami beberapa waktu lalu? Apakah sesungguhnya kita bisa sukses di seluruh aspek kehidupan kita?

Sebenarnya siapa yang sering kita katakan sebagai orang sukses? Pebisnis? Pejabat? Artis? Atau bos di suatu perusahaan? Apa kesamaan-kesamaan dari orang sukses tersebut? Mereka memiliki sesuatu yang lebih dibandingkan orang lain. Orang yang dikatakan sukses biasanya memiliki kekayaan finansial, posisi atau status yang tinggi, juga popularitas. Salah satu hal saja dimiliki, mungkin orang tersebut sudah dapat dianggap sukses. Seorang kaya raya, memiliki rumah besar, mobil banyak, hidup sejahtera, bisa dikatakan sukses tanpa orang lain tahu siapa dirinya dan apa yang dilakukannya. Seorang artis yang sering masuk televisi, dikatakan sukses karena terkenal, tanpa ada yang tahu seberapa tertekannya ia di bawah production house tertentu. Seorang lain yang menjadi CEO di suatu perusahaan, memiliki anak buah banyak, dikatakan sukses meski hidupnya sederhana. Catatannya, orang-orang ini juga harus mengikuti norma sosial yang berlaku. Hal ini sejalan dengan penjelasan yang lebih spesifik dari Oxford Dictionary Online, ‘success’ juga dijelaskan sebagai ‘the attainment of fame, wealth, or social status’.

Saya sebenarnya tidak setuju dengan pandangan umum masyarakat dan penjelasan lanjutan dari Oxford Dictionary Online tersebut. Bagi saya, penjelasan sesempit itu sangat membatasi nilai kita sebagai manusia. Apakah yang bisa sukses hanya pebisnis kaya raya, artis, hingga bos papan atas? Apakah orang-orang yang bekerja untuk idealismenya, tidak mengincar popularitas, uang, dan status, tidak bisa dianggap sukses? Apakah pekerja kemanusiaan, aktivis lingkungan, penjaga panti, atau petugas kebersihan, tidak layak disebut sebagai seseorang yang sukses?

Kini, di dalam pergaulan sehari-hari, kita juga mulai menilai kesuksesan atau “harga” seseorang berdasarkan tiga hal tersebut. Kita menilai seseorang dari di mana ia bekerja, berapa gajinya sebulan, mobil apa yang dimilikinya, di mana rumahnya, atau berapa followers-nya. Kita seringkali luput tentang apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam hidupnya. Apa yang ia kerjakan dan kegiatan apa lagi yang ia lakukan di kehidupannya? Bagi saya, tempat di mana ia bekerja (dan hal-hal lain yang telah disebutkan sebelumnya), memang memberikan kita informasi mengenai beberapa hal tentang dirinya, tapi bukan itu intinya. Informasi itu hanya sebagian kecil dari dirinya. Informasi mengenai apa yang ia lakukan di dalam hidupnya dan apa yang sebenarnya ia kerjakan, justru lebih menjelaskan mengenai kualitas sesungguhnya dari individu tersebut sebagai manusia. Kita bukanlah apa yang kita miliki saat ini, tapi apa yang kita lakukan di dalam hidup. 

Jika kita kembali pada definisi sukses secara umum di awal, definisi tersebut justru memberikan kesempatan kepada manusia untuk membuktikan bahwa dirinya berdaya. Serupa pula jika kita membahas kesuksesan melalui Hierarchy of Needs milik Abraham Maslow. Kebutuhan kita yang berada di jenjang paling atas adalah aktualisasi diri. “Sukses” menurut Maslow adalah ketika kita berhasil memenuhi kebutuhan tertinggi itu. Ia bicara tentang “sukses” tidak dari sudut pandang sosial, tapi menurut diri individu itu sendiri. Maslow tidak bicara tentang status, uang, dan popularitas. Ia bicara tentang kepuasan diri sendiri, tentang self-fulfillment, tentang kesadaran bahwa potensi dirinya yang sudah tersalurkan dan terpenuhi. Bahwa sukses sangat mungkin dicapai oleh banyak orang dan bukan hanya milik golongan tertentu. Bahwa Pasukan Oranye yang baru selesai membersihkan sampah setelah konser di Senayan, bisa dibilang sukses. Bahwa penjaga keamanan hutan yang tadi malam berhasil mengusir pencuri kayu, bisa dibilang sukses. Bahwa guru yang berhasil membimbing muridnya menjuarai lomba tingkat daerah, juga bisa dibilang sukses. Bahwa sukses adalah suatu keniscayaan, bukan kemustahilan.

Jika dunia ini hanya selalu bicara mengenai materil, popularitas, dan status, tak heran bahwa manusia sendiri lah yang akan menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Kita sendiri yang menghancurkan peradaban yang kita miliki. Friedrich Hegel sempat mengatakan, bahwa pekerjaan adalah suatu proses tentang pernyataan diri manusia. Sekali lagi, ‘kerja’ bukan melulu tentang “di mana”, tapi “apa”. Maka, ketika bertemu dengan orang yang baru Anda kenal atau teman yang sudah lama tidak bertemu, cobalah mulai bertanya dengan “Apa yang sedang kamu kerjakan?” atau “Apa saja yang sedang kamu lakukan di hidupmu?”, bukan “Kamu kerja di mana sekarang?”. Di dalam Bahasa Inggris, kita bertanya “What do you do for a living?”, bukan “Where do you work?“.

If I am what I have, and I lose what I have, who then am I? – Erich Fromm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s