Bukan Korupsi

Seorang laki-laki masuk ke kedai kopi tempatku sedang bekerja. Tubuhnya gempal dengan perut yang maju ke depan. Kulitnya cokelat tua, seperti warna ornamen kayu di kedai tua ini. Rambutnya hitam berminyak, seperti oli mobil yang tumpah di garasi rumah. Wajahnya bopeng-bopeng, persis bulan yang pertama kali diinjak Neil Armstrong. Kumisnya seperti kumis kucing, panjang tapi jarang. Ia duduk persis di meja depanku.
“Mbak!” ucapnya lantang, sambil mengangkat tangan memanggil pelayan kedai itu.
Aku lalu mengalihkan perhatianku kembali pada pena dan bukuku. Mencoba untuk kembali fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaanku.

Tak sampai 5 menit aku membaca dan menulis, perhatianku terusik dengan gerakan-gerakan masif dari tubuh laki-laki di depanku itu. Ia sedang berusaha memindahkan kursi dari satu meja ke meja lainnya. Sialnya, ia terlalu malas untuk mengangkat kursi kayu tersebut, sehingga bunyi seretan kursinya terdengar keras hingga ujung ruangan. Kesal dengan usikannya, aku kembali berusaha mengalihkan perhatianku ke pekerjaan.

Selama sekitar 15 menit, suasana cukup tenang. Mataku lalu berkunjung ke meja lelaki itu. Ia sedang menikmati es krim cokelat di gelas bening. Gelas itu tampak sangat kecil, tenggelam di tangan gempalnya. Setiap kali es krim tersebut dilahapnya, entah mengapa tubuhnya tampak semakin berwarna cokelat pula.
“Mbak! Tolong diangkat ya!” Ucapnya dengan keras dan agak kasar.
“Ya, pak” balas pelayan, sembari berjalan cepat mendekati.

Tiba-tiba, ada seorang lelaki tinggi semampai berjalan agak teburu-buru dari belakangku.
“Wah, pak! Apa kabar?” Kata lelaki semampai tersebut kepada lelaki di meja depanku.
“Waah ketemu di sini kita. Baik, baik! Bapak ngapain di sini? Mau ketemu orang?”
“Hahaha ngga, mau ketemu nasi dan kopi!”
“Wah oke kalau begitu, silahkan disantap!”
Percakapan itu sangat keras sekali, tidak hanya aku yang bisa mendengarnya. Ku rasa, koki di dapur belakang pun jika mau sedikit memasang telinga, akan mampu pula mendengarnya. Ini juga kali pertama aku mendengar lelaki di depanku itu berbicara lebih panjang. Suaranya medok, asal Jogja dugaanku.

Lelaki gempal tersebut lalu kembali ke tempat duduknya dan langsung menyeruput teh panas yang telah dihidangkan oleh pelayan kedai. Sembari menikmati teh panas, tangan kanan lelaki tersebut tampak sibuk bergerak di layar telepon genggamnya. Tak berapa lama, ia memindahkan telepon genggamnya ke sebelah telinga.
“Halo!” Sapa lelaki tersebut kepada lawan bicaranya di ujung telepon sana.
Aku bersumpah, suaranya keras sekali. Lebih keras dibanding saat ia berhadapan dengan rekannya yang tinggi semampai tadi. Riuh bicara tamu lain terasa redam karena kalah keras dengan suara lelaki gempal itu.
Piye kabare, Mas? Aku baik-baik aja nih, lagi mau kerja di kedai kopi di daerah Cikini” ucapnya dengan logat jawa kental.
“Sudah lama ya kita ndak ketemu…” ia melanjutkan.
Pembicaraan basa-basi tersebut masih berlanjut beberapa kalimat lagi. Sebelum akhirnya ia mengatakan:
“Iyo, adekku ndaftar di KPK itu. Kan lagi buka lowongan tho?”
Kesal yang kumiliki kini berubah jadi penasaran. Sayangnya, aku tak mampu mendengar suara lawan bicaranya.

Aku ingat, sekitar dua minggu lalu, di koran langgananku terdapat iklan bahwa KPK sedang membuka lowongan dan mencari calon pegawai. Jumlah yang dicari tampaknya cukup banyak. Sebenarnya aku ingin sekali mendaftar ke KPK, hanya saja lowongan yang dibuka kurang sesuai dengan bidang ilmuku. Aku merasa agak sayang jika harus menyia-nyiakan ilmu yang sudah susah payah kupelajari selama 6.5 tahun ini. Padahal, cita-cita menjadi polisi moral bisa tercapai jika aku mendaftar di situ. Maklum, aku naif dan utopis. Biarlah seperti ini. Ku rasa dunia membutuhkan beberapa orang sepertiku.

Lelaki gempal itu menelepon sambil duduk menyender di kursi cokelat yang serupa dengan warna kulitnya. Wajah dan dagunya terangkat angkuh. Kakinya terbuka lebar, serupa raja di singgasana.
“Kamu masih kerja di KPK? Masih tho?” tanyanya mendesak.
Aku semakin penasaran dengan perbincangan ini.
“Gini, Mas. Adekku kan baru lulus S1 hukum di Jogja, nah dia kemarin ndaftar di KPK. Kamu bisa bantuin ndak?”
Aku terkejut dan terheran. Ia leluasa sekali bicara untuk meminta bantuan agar adiknya bisa masuk KPK melalui jalur yang tak seharusnya. Apa ia tidak malu mau memasukkan adiknya ke institusi yang memiliki semangat yang sama sekali berbeda dengan caranya? Ia berucap dengan sangat keras pula. Didengarkan belasan orang lain di kedai ini.
“Nanti kukirimin nama sama nomer tes adekku yo?”

Kini justru aku yang malu. Malu bahwa institusi yang didukung oleh jutaan orang negeriku, yang diharapkan rakyatnya, yang dipercaya kredibilitasnya, ternyata masih memiliki celah besar untuk praktik-praktik amoral semacam ini. Apakah aku benar terlalu naif? Apa aku terlalu bodoh mengharapkan hal-hal seperti ini tidak akan ada di institusi anti rasuah negeri ini? Apakah ini permasalahan “mental” orang Indonesia? Menggunakan berbagai cara untuk mencapai suatu titik tertentu, baik legal maupun tidak. Ataukah ini memang ciri dari budaya kolektivis dan gotong royong? Siapa yang dikenal, diharapkan saling membantu. Atau ini masalah integritas? Selama tak ada yang tahu, semua halal dan diperbolehkan. Ataukah ini hanya kepedulian seorang kakak terhadap adiknya? Kepedulian yang didasari keraguan dan kekhawatiran tentang kemampuan sang Adik. Apapun alasannya, tanpa melalui proses seleksi yang seharusnya, kursi di gedung itu bisa diduduki oleh orang yang tidak kapabel. Apakah kita sehaus itu akan kekuasaan dan kepastian akan masa depan? Bukankah di dunia ini yang pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri? Aku marah dan tak habis pikir.

Maturnuwun yo, Mas? Nanti kukabari pokokke“.
Lelaki tersebut kemudian menutup teleponnya, lalu tersenyum licik. Pada saat itu, aku baru tersadar, singkatan KPK adalah Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia tak menyinggung tentang nepotisme sama sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s