Air di Kala Senja

“Butuh berapa pertemuan lagi untuk meyakinkanmu?”
Pertanyaan tersebut hanya dibalas dengan diam oleh Senja. Bola mata yang sebelumnya menatap Air, kini sedang berjalan-jalan entah mencari apa di udara.

“Aku tahu ini terlalu cepat” lanjut Air.
Ini adalah kali kelima Air bertemu dengan Senja. Sejak awal, Air yakin bahwa Senja adalah bagian dari dirinya yang hilang. Air yakin, bahwa Senja juga merupakan cerminan dirinya. Terlalu banyak kesamaan-kesamaan di antara mereka berdua. Air gemar menulis, begitu juga Senja. Air gemar membaca, begitu juga Senja. Air gemar menonton film yang biasa tak tayang di bioskop, begitu juga Senja. Senja senang dengan interaksi antar manusia, begitu pula Air. Senja senang mengolah raga, begitu pula Air. Senja cerdas, begitu pula Air.

Perbedaan keduanya terletak pada keyakinan hati. Air sebenarnya tak tahu, apakah Senja sudah cukup tertarik dengan dirinya atau belum. Atau bahkan tidak tertarik sama sekali. Ia kesulitan untuk menerka deretan kode yang tampil di dalam diri Senja. Di balik itu semua, ia sangat kagum terhadap perempuan yang usianya 4 tahun lebih muda dari dirinya tersebut. Perbedaan usia yang sempurna menurut orang Tionghoa. Air tak pernah bisa melepaskan matanya dari Senja saat bersama. Kulit cokelatnya menyatu alami dengan alam sekitar. Pakaian apapun yang dikenakannya selalu pas. Rambutnya terlalu indah untuk ditutupi oleh apapun. Legam matanya mampu menenggelamkan sosok yang menatapnya. Bibirnya meliuk tajam. Gigi putihnya terpatri rapi. Baginya, perempuan ini terlalu sesuai dengan yang diharapkannya. Cantik, cerdas, perasa, dan perkasa. Kurang apa lagi? Kekagumannya ini lalu menerbangkan ekspektasinya hingga sangat tinggi, nyaris melewati stratosfer. Kini, ia justru ketakutan seorang diri karena ekspektasinya tersebut. Air takut untuk jatuh. Ia bahkan terlalu takut untuk melihat ke bawah.

Senja memiliki ketakutan yang berbeda. Ia takut akan masa lalunya. Ketakutannya ini disebabkan karena ia pernah tak dihargai, dicintai, dan dikasihi. Senja lalu memaknai pengalamannya tersebut menjadi sesuatu yang sangat personal. Ia menjadi takut untuk jatuh cinta. Ia takut kalau ia tidak lagi bisa mencinta. Senja takut kisahnya dengan Air juga akan berakhir serupa. Di dalam kepalanya, selalu terngiang suara untuk tak lagi berharap pada cinta. Untuk melupakan segala kelembutan afeksi. Untuk dapat kuat hidup seorang diri. 

Sebenarnya, ia menganggap dirinya tidak layak dicintai. 

*******

Mata Senja masih berjalan-jalan di udara. Dari depannya, Air bisa mendengar degup jantung Senja yang makin lama makin cepat. Jemari Air lalu menggapai lengan Senja.

“Hmm?” kata Air lembut.
“Apa?” balasnya dengan lemah.
“Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?”
“Pertanyaan yang mana?”
Pikiran Senja ternyata terlalu kalut untuk bisa menyadari pertanyaan Air. Bukan saja sejak Air bertanya beberapa detik yang lalu, tapi sejak mereka berdua bertemu.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya”
“Mari kuantar pulang. Aku rasa kamu butuh istirahat sejak sakit kemarin”.
“Iya” balasnya lagi.

Dalam perjalanan pulang, Air berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia mulai membahas mengenai langit, bumi, manusia, hingga jejak langkahnya. Senja memang merespon, namun hanya seadanya dan dengan lemah. Air yang terlalu takut untuk membuat Senja merasa tertekan, akhirnya justru kebingungan dan ikut terjerumus dalam kesunyian. Sisa perjalanan kemudian hanya diiringi oleh suara musik dari radio, yang tak didengarkan oleh keduanya.

Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di tujuan. Air lalu turun untuk mengantar perempuan yang ia kagumi tersebut ke depan rumahnya.
“Maafkan aku” kata Senja tiba-tiba.
Air tersenyum hangat, walau sebenarnya ia tidak paham apa yang Senja maksud dengan “maaf”. Pikirannya sudah terlalu sibuk dengan harapan mendapatkan pelukan sampai jumpa, yang tentu tak didapatkannya setelah itu. Senja langsung masuk ke rumah, diantar oleh senyum Air yang masih berusaha hadir di wajahnya. Air lalu membalikkan badannya dan berjalan lunglai ke arah mobil. Pada saat yang sama, langit berwarna jingga mulai meneteskan tangisnya di sore itu. Seakan ia tahu bahwa itulah yang sedang dirasakan oleh dua manusia muda tersebut. 

Sambil masuk ke dalam mobil, Air bergumam “Semoga kisah ini tak menjadi seperti rintik air langit yang jatuh kesakitan di kala senja”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s