Menentukan Arah

*Tulisan mengenai quarter life crisis ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2016. Ini adalah tulisan asli, sebelum disunting untuk artikel di sebuah social platform bernama Jemari Tangan.*

Menghadapi quarter life crisis, artinya menghadapi situasi dimana individu dihadapkan dengan berbagai pilihan tanpa henti. Kita untuk pertama kalinya “dipaksa” untuk memilih berbagai keputusan-keputusan penting di dalam hidup kita. “Apakah saya akan bekerja di perusahaan A atau perusahaan B?”, “apakah saya akan melanjutkan studi atau lanjut bekerja?”, “apakah saya akan mengikuti idealisme atau berada di jalur yang aman secara finansial dan karier?”, “apakah dia orang yang tepat untuk saya?”, atau “pada usia berapa saya akan menikah?”.

Setiap individu umumnya mengharapkan keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik. Masalahnya, di dalam hidup tidak ada sesuatu yang pasti. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya, baik itu positif maupun negatif. Seringkali, individu berharap bahwa pilihan yang ia ambil hanya memiliki muatan positifnya saja, tetapi menolak negatifnya. Misalnya saja, ketika seseorang sedang mengalami kebingungan apakah ia ingin bekerja di perusahaan A sebagai wartawan atau bekerja di perusahaan B sebagai karyawan kantoran. Ia sangat ingin bekerja di bidang media sejak ia kuliah, namun ternyata ia tidak siap ketika harus sering pergi mencari berita ke daerah-daerah terpencil. Di satu sisi, ia juga takut merasa bosan ketika bekerja di kantor. Contoh lainnya, adalah ketika seseorang bingung apakah ia ingin bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kemanusiaan atau bekerja di kantor sebagai karyawan HR. Ia merasa LSM adalah panggilan jiwanya, namun masalah finansial menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain, meski bekerja kantoran memberi keamanan finansial, ia merasa bahwa ia tidak akan bahagia menjalaninya.

Kita seringkali tidak mengetahui, bagaimana pilihan yang akan kita ambil berdampak terhadap kehidupan kita. Kita tidak bisa meramal apa yang akan terjadi di depan setelah mengambil pilihan tersebut. Konsekuensi dari setiap pilihan tampak tidak jelas dan rancu. Ketidakjelasan ini akhirnya membuat kita seringkali menunda-nunda pengambilan keputusan. Kita cenderung menghindar ketika diminta untuk memutuskan. Kita juga mungkin cenderung untuk diam saja, sehingga akhirnya tidak bergerak dari posisi awal kita. Kita bisa jadi menjadi bertindak secara gegabah, tidak memikirkan matang-matang pilihan kita. Kemungkinan lainnya adalah kita merasa tertekan dan sangat stres menghadapi tuntutan untuk mengambil pilihan dan keputusan penting dalam hidup ini.

Terdapat 3 teknik atau model (Krogerus & Tschappeler, 2011) yang dapat digunakan dalam membantu kita untuk mengambil sebuah keputusan saat menghadapi krisis di seperempat kehidupan ini:

  1. Rubber Band Model

Model ini dapat digunakan saat kita sedang merasa kebingungan atau merasakan dilema dalam menentukan sebuah pilihan. Misalnya saja apakah kita ingin pindah tempat bekerja, tinggal di kota lain, atau pindah tempat tinggal.

Screen shot 2016-10-11 at 9.40.18 PM.png

Setelah menggambar seperti contoh di atas, kita dapat mulai menuliskan apa yang menahan kita untuk tetap berada pada pilihan awal (what is holding you?) pada sisi kiri. Selanjutnya pada sisi kanan, kita dapat menuliskan hal-hal apa saja yang menarik kita untuk mengambil pilihan tersebut (what is pulling you?). Sekilas model ini terlihat seperti teknik pro dan kontra. Bedanya, model ini lebih fokus pada hal-hal positif dari dilema yang ada. Setelah menuliskan keduanya, silahkan pertimbangkan apakah sisi yang menahannya lebih kuat atau sisi yang menariknya yang lebih kuat?

  1. Crossroads Model

Model yang dikembangkan oleh agensi The Grove dari San Fransisco ini dirancang untuk membantu kita dalam menentukan arah dan tujuan hidup. Oleh karena itu, kita harus menjawab beberapa pertanyaan yang penting terlebih dahulu:

  • Dari mana kita berasal?

Bagaimana latar belakang ini dapat membentuk diri kita menjadi seperti sekarang? Hal-hal apa saja yang sudah kita lewati dalam hidup, putuskan, hambatan, yang berpengaruh terhadap hidup kita sekarang? Pikirkan mengenai pendidikan, daerah asal, pola asuh orangtua, dan lain-lain. Catat hal-hal yang sangat penting dan berpengaruh bagi diri kita!

  • Apa yang sangat penting bagi diri kita?

Catat hal-hal apa saja yang penting bagi diri kita! Silahkan tulis hal-hal pertama yang terlintas di pikiran. Tidak usah terlalu spesifik pun tidak apa-apa. Mungkin itu mengenai nilai-nilai yang dianut, apa yang dipercayai, prinsip-prinsip yang dimiliki, dan lain-lain.

  • Siapa saja orang-orang yang penting bagi diri kita?

Tuliskan siapa saja orang-orang yang berpengaruh di dalam hidup kita. Siapa saja yang mempengaruhi keputusan-keputusan kita. Tulis pula orang-orang yang dipengaruhi oleh keputusan kita. Pikirkan juga orang-orang yang kita segani atau takuti.

  • Apa saja yang menghambat kita?

Apa aspek-aspek di dalam hidup yang dapat menghambat kita dalam mencapai tujuan? Apa saja hal-hal yang harus kita lakukan sehingga menghambatmu mencapai tujuan tersebut?

  • Apa yang kita takutkan?

Tuliskan situasi, orang-orang, atau tempat yang dapat membuat kita menjadi merasa cemas dan kehilangan energi atau kekuatan.

Catat poin-poin penting dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selanjutnya bayangkan terdapat jalan-jalan (atau arah dan tujuan hidup) yang dapat kita pilih.

  • Jalan 1: The beckoning road – jalan/tujuan apa yang selalu ingin kita capai?
  • Jalan 2: The dream road – jalan/tujuan apa yang menjadi impian kita? Terlepas dari apakah itu masuk akal atau tidak.
  • Jalan 3: The sensible road – jalan/tujuan yang paling masuk akal, tujuan yang disarankan oleh orang lain yang kita nilai bijak.
  • Jalan 4: The road not travelled – jalan/tujuan yang sebelumnya tidak kamu pertimbangkan
  • Jalan 5: The familiar road – jalan yang selama ini sudah pernah kita lewati
  • Jalan 6: The road back – jalan yang menuju ke tempat paling nyaman bagi kita.

Silahkan tulis apa saja jalan-jalan tersebut. Kita juga bisa menambahkan atau mengurangi pilihan tujuan/jalan tersebut, disesuaikan dengan opsi yang kita miliki saat ini.

Screen shot 2016-10-11 at 9.57.44 PM.png

Setelah menuliskan poin-poin penting dari pertanyaan yang ada dan juga pilihan jalan/tujuan, kita bisa mendiskusikannya bersama dengan teman dekat kita mengenai jalan/tujuan mana yang bisa kita ambil. Tentunya, jalan dan tujuan ini mempertimbangkan berbagai jawaban dari pertanyaan yang sudah dijawab tersebut. Secara tidak langsung, proses pengambilan keputusan menggunakan model ini juga telah membantu kita untuk menentukan hal-hal apa saja yang menjadi prioritas kita di dalam hidup.

  1. The Personal Performance Model

Banyak orang yang merasa tidak puas dan bosan terhadap pekerjaannya, namun mengalami kebingungan apakah sebaiknya kita pindah pekerjaan atau tidak. Model ini dapat membantu untuk mengevaluasi situasi dan kondisi pekerjaan kita saat ini. Model ini mengharuskan kita menjawab tiga buah pertanyaan yang sama setiap harinya, selama tiga minggu, lalu mencatatkannya. Pertanyaan yang harus dijawab adalah:

  • Have to – seberapa jauh pekerjaan saya menuntut saya (untuk bekerja keras dan belajar lebih jauh)?
  • Able to – seberapa jauh pekerjaan saya sesuai dengan kemampuan saya?
  • Want to – seberapa jauh pekerjaan saya sesuai dengan yang saya ingin kerjakan?

Ketiga pertanyaan tersebut dijawab berdasarkan skala 0 – 10 (0 = tidak menuntut/tidak sesuai dengan kemampuan/tidak saya inginkan dan 10 = menuntut saya/sesuai dengan kemampuan saya/sesuai dengan yang saya inginkan).

Screen shot 2016-10-11 at 11.08.53 PM.png

Setiap harinya, silahkan pindahkan skala tersebut ke dalam diagram seperti berikut:

Setelah 3 minggu, kita akan memiliki 21 diagram seperti di atas. Selanjutnya, kita dapat menganalisa bentuk dari diagram-diagram yang kita miliki. Ketika diagram yang kita miliki berubah-ubah, artinya pekerjaan yang kita lakukan saat ini bervariasi. Menuntut kita untuk belajar sesuatu yang baru, ada hal-hal yang sesuai dengan yang kita inginkan, dan juga sesuai dengan kemampuan kita. Sebaliknya, ketika bentuk diagramnya cenderung statis, maka pekerjaan kita cenderung sama setiap harinya. Pekerjaan yang cenderung statis dapat membuat kita merasa lebih mudah bosan terhadap apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu, ketika bentuk diagramnya statis, kita dapat bertanya kepada diri kita:

  • Apa yang sebenarnya saya inginkan?
  • Apakah saya dapat mengerjakan apa yang saya mau?
  • Apa yang sebenarnya saya mampu kerjakan?
  • Apa saya ingin mengerjakan hal yang saya mampu?

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu kita untuk berefleksi dan menentukan, apakah sebenarnya kita masih ingin berada di pekerjaan saat ini atau ingin resign dan pindah pekerjaan?

Tiga model tersebut adalah contoh model-model yang dapat digunakan untuk membantu kita mengambil sebuah keputusan. Selain karena model-model tersebut, menuliskan segala pertimbangan yang kita miliki dapat membantu kita untuk bisa melihat masalah secara luas. Kita dapat melihat permasalahan yang kita miliki dari helicopter view. Terkadang, ketika kita hanya memikirkannya dan tidak menuliskannya, kita akan cenderung untuk kebingungan dan mumet. Menuliskan segala pertimbangan yang ada dapat membantu kita melihat masalah yang kita hadapi secara jelas dan nyata.

Selamat mencoba dan memilih!

 

Referensi

Krogerus, M. & Tschappeler, R. (2011).The Decision Book: Fifty Models for Strategic Thinking. London: Profile Books Ltd.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s