Muram

Langit tiba-tiba semuram itu. Awan abu berkumpul bersatu. Aku tak paham mengapa. 

Ku kira, karena beberapa orang suku pedalaman sempat mengucap mantra pemanggil hujan. Ku rasa, tak sepenuh jiwa dari hujan yang terpanggil. Ku duga, mantranya kurang kuat, hingga yang terpanggil hanya muram. 

Biasanya aku sangat suka dengan rintik air langit. Suara tiap-tiapnya yang jatuh ke bumi, menciptakan irama. Suara tiap-tiapnya, menghasilkan energi. Suara tiap-tiapnya, menjadikan tentram. 

Tapi, kali ini aku benar butuh matari. Untuk menghangatkan tubuhku yang kaku beku. Untuk bangkit dan berdiri menghadapi awan kelam. Untuk memberiku cahaya melawan muram langit ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s