Hukuman (ala) Masyarakat

Beberapa minggu ini di beberapa media sosial, seperti Path dan Facebook, saya sempat melihat sebuah meme yang membahas mengenai Zaskia Gothik, Sonya Depari, dan Nurmayani Salam. Zaskia Gothik muncul di meme tersebut karena ia tidak hafal Pancasila, lalu dijadikan Duta Pancasila. Sonya Depari adalah seorang remaja SMA yang memaki Polwan karena kendaraannya dihentikan saat sedang merayakan kelulusannya, lalu dijadikan Duta Narkoba. Nurmayani Salam adalah seorang guru biologi SMP yang kini ditahan karena mencubit anak muridnya dengan alasan untuk “mendisiplinkan”. Netizen membandingkan ketiga orang ini dan memprotes mengenai “keputusan” tersebut. Bagi para Netizen, seharusnya Zaskia dan Sonya dihukum, lalu Nurmayani tidak diberi hukuman, karena tujuannya baik. Media pun mengambil sudut pandang yang sama, berusaha membenarkan perilaku mencubit yang dilakukan oleh Nurmayani.

Jika dipikirkan, pemberian “gelar” kepada Zaskia dan Sonya memang kadang tidak masuk di akal. Meski begitu, perilaku Nurmayani yang mencubit muridnya tidak pula dapat dibenarkan. Masyarakat seringkali membenarkan perilaku kekerasan jika dilakukan dengan tujuan yang “baik”. Mereka membenarkan hukuman fisik yang dilakukan oleh guru kepada muridnya. Katanya “ah hanya dicubit doang juga”. Lalu mereka membandingkan dengan masa kecilnya “dulu gw kalo ngadu ke bokap, malah dipukul pake sapu” atau “masih mending dicubit, dulu gw disabet pake lidi”. Pernyataan-pernyataan ini dapat banyak anda temui di bagian comment media sosial atau bahkan mungkin keluar dari mulut orang di sekitar anda sendiri. Pembenaran yang dilakukan masyarakat dan media tersebut tidak dapat diterima begitu saja, apalagi perilaku ini muncul di dalam konteks pendidikan dan dilakukan oleh guru.

Selain karena alasan hak asasi manusia, banyak penelitian-penelitian yang membahas dampak dari hukuman fisik kepada anak. Hukuman fisik kepada anak umumnya digunakan oleh pihak otoritas (misalnya guru atau orangtua) untuk “mendisiplinkan anak”, “memberi tahu mana yang benar dan salah”, atau “siapa yang berkuasa”. Guru atau orangtua seringkali menganggap bahwa hukuman fisik yang diberikan biasanya selalu berhasil “mendisiplinkan” atau mengubah perilaku anak. Newsom, Flavell, dan Rincover (dalam Gershoff, 2002) menyatakan bahwa memang hukuman fisik berlaku efektif pada perubahan perilaku anak dalam jangka waktu yang singkat (segera). Hal ini lah yang mungkin membuat guru atau orangtua masih sering melakukan hukuman fisik kepada anaknya. Mereka tidak melihat dampak jangka panjang yang mungkin terjadi pada anak.

Pada dasarnya hukuman fisik tidak secara jelas mengajarkan kepada anak perilaku apa yang salah dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak tersebut. Biasanya, guru atau orangtua hanya fokus pada hukuman yang diberikan saja. Mereka tidak menjelaskan kepada anak apa yang sebaiknya anak lakukan dan dampak dari perilakunya kepada orang lain. Hal ini pula yang biasanya menyebabkan hukuman fisik tidak efektif untuk mengubah perilaku anak dalam jangka panjang (Saunders & Goddard, dalam Lenta, 2012; Benatar, 1998). Hukuman fisik secara tidak langsung juga mengajarkan bahwa dalam berbuat sesuatu yang salah, yang penting bagi anak adalah tidak ketahuan dan tertangkap saat melakukan perbuatan tersebut (Hoffman; Grusec; Smetana, dalam Gershoff, 2002).

Hukuman fisik yang diterima oleh anak dapat ditangkap sebagai sebuah pesan bahwa kekerasan fisik adalah sesuatu yang lumrah atau normal dilakukan (White & Straus, dalam Benatar, 1998). Anak juga belajar bahwa kekerasan fisik dapat dilakukan sebagai salah satu cara anak untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Straus (dalam Benatar, 1998) menyatakan bahwa terdapat korelasi yang positif antara pengalaman mengalami hukuman fisik dengan perilaku tindak kekerasan. Di dalam penelitian mengenai hubungan hukuman fisik yang dilakukan oleh orangtua, ditemukan pula bahwa hukuman fisik yang diterima anak memiliki hubungan dengan meningkatnya perilaku agresif yang akan ditunjukkannya (Becker; Patterson; Radke-Yarrow; Campbell & Burton; Steinmetz, dalam Gershoff, 2002). Perilaku agresif ini dapat muncul karena anak melakukan modeling terhadap perilaku dari sosok otoritas tersebut (Aronfreed; Bandura & Walters; Eron, Walder, & Lefkowitz; Walters & Grusec, dalam Gershoff, 2002). Anak juga mungkin akan menjadi pelaku kekerasan di masa mendatang. Dalam jangka panjang, perilaku agresif ini juga memiliki kemungkinan untuk muncul hingga anak mulai menjalin hubungan romantis dengan pasangannya saat dewasa (Simons, Lin, & Gordon, dalam Gershoff, 2002). Beberapa penelitian juga menghubungkan hukuman fisik ini dengan kemungkinan jangka panjang bahwa anak akan melakukan perilaku kriminal di lingkungannya (Maurer, 1990; McCord, dalam Gershoff, 2002).

Dampak lain yang dapat dialami oleh anak adalah kesejahteraan psikologis anak yang menjadi tidak terlalu baik. Anak yang sering mengalami hukuman fisik diasosiasikan akan mengalami permasalahan psikologis, muncul simtom-simtom depresi, dan distress (McLoyd, Jayaratne, Ceballo, & Borquez, dalam Gershoff, 2002). Anak juga mungkin akan mengalami mimpi buruk, takut untuk pergi ke sekolah, merasa cemas, tidak nafsu makan, tidak dapat berkonsentrasi, mengompol, atau menangis tanpa alasan yang jelas (Hyman, dalam Maurer, 1990). Kepercayaan diri anak akan menurun dan ia juga akan merasa tidak berdaya terhadap permasalahan yang menimpanya (Baumrind & Black; Lasky, dalam Gershoff, 2002).

Kembali kepada para Netizen yang mengecam penangkapan guru SMP yang melakukan hukuman fisik kepada anak muridnya. Masyarakat mungkin juga seperti guru atau orangtua yang melakukan hukuman fisik kepada anaknya. Mereka lupa bahwa terdapat dampak jangka panjang yang dapat terjadi dan mempengaruhi berbagai perilaku anak. Mereka lupa bahwa anak-anak yang mereka hukum mungkin akan melakukan tindak kekerasan jika sudah beranjak dewasa. Di saat anak-anak tersebut sudah tumbuh dewasa dan muncul permasalahan baru, misalnya tawuran, kekerasan dalam pacaran (KDP), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau perilaku kriminal, masyarakat dan media juga akan kembali mengecam perilaku tersebut.

Pertanyaan yang kemudian muncul dari masyarakat adalah, apa yang dapat dilakukan untuk “mendisiplinkan” atau membuat anak tidak melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan? Banyak sekali teori dan konsep belajar yang ada dan dapat kita gunakan dalam mendidik anak, baik di rumah maupun di sekolah. Memang salah satu cara untuk membentuk perilaku adalah dengan memberikan hukuman (punishment), namun tidak ada yang menyarankan memberikan hukuman secara fisik. Bahkan ketika ingin memberikan hukuman, kita tidak dapat secara sembarang memberikannya. Ada hal-hal yang harus diperhatikan agar hukuman yang kita berikan dapat efektif (Martin & Pear, 2011). Hal yang harus menjadi perhatian adalah : (1) Anak sebaiknya memiliki pilihan perilaku yang dapat ia lakukan, sehingga ia tidak terus mengulang perilaku yang tidak diinginkan tersebut. (2) Penting untuk mengurangi atau menghilangkan faktor penyebab dari perilaku yang tidak diinginkan, sehingga anak tidak terus menerus memiliki kesempatan untuk melakukan perilaku tersebut. (3) Guru atau orangtua dapat memilih hukuman yang tepat bagi anak, yaitu hukuman yang tidak terlalu berat maupun terlalu ringan. (4) Perlu adanya kejelasan kapan hukuman tersebut diberikan kepada anak. (5) Hukuman harus disampaikan segera setelah perilaku yang tidak diinginkan terjadi dan tidak dapat diberikan bersamaan dengan reinforcement lain.

Selain pemberian hukuman, guru atau orangtua dapat melakukan diskusi atau membangun komunikasi yang baik dengan anak. Anak dapat diajak untuk berdiskusi sembari ditegur atau diingatkan, mengenai apa yang menjadi kesalahan mereka. Mengapa hal tersebut salah dan tidak dapat diterima oleh lingkungan? Apa dampaknya bagi dirinya dan lingkungan ketika ia melakukan hal tersebut? Apa yang sebaiknya dapat dilakukan ketika ia menghadapi situasi serupa? Mengapa ia sebaiknya memilih perilaku lainnya dan bukan perilaku yang lama? Hal ini penting untuk dilakukan, agar anak terbiasa untuk berpikir dan memahami secara komprehensif mengenai kesalahannya. Ia juga dapat memahami dengan lebih baik bagaimana cara untuk berinteraksi dan bersikap di lingkungan. Dalam hal ini, yang paling penting adalah anak tidak menampilkan suatu perilaku sesuai norma yang ada di lingkungan karena takut akan hukuman, namun ia dapat bersikap dan berperilaku karena telah melewati proses berpikir dan didasari oleh pemahaman yang baik terhadap suatu situasi dan diri sendiri. Tentunya proses diskusi dan komunikasi dengan anak dilakukan juga dengan tetap memperhatikan tahap perkembangan kognitif anak.

Proses pembentukan perilaku melalui pemberian hukuman atau diskusi seperti yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa anak sebagai individu yang masih berkembang, membutuhkan sosok lain untuk membimbingnya. Ia tidak membutuhkan kekerasan dan hukuman secara fisik dari lingkungannya. Hal ini lah yang menjadi tantangan untuk kita semua. Di saat masyarakat dan media membenarkan dan mendukung adanya kekerasan atau hukuman secara fisik, kita dituntut untuk kokoh berdiri sembari menyebarkan kesadaran mengenai pengasuhan dan pembentukan perilaku anak. Kita tidak bisa berdiri sendiri dalam waktu yang lama. Kita membutuhkan bantuan dari berbagai pihak untuk dapat menciptakan peradaban yang lebih baik di masa mendatang.

It takes a whole village to raise a child” – African Proverbs

Referensi

Benatar, D. (1998). Corporal Punishment. Social Theory and Practice. 24(2), 237-260.

Gershoff, E. T. (2002). Corporal Punishment by Parents and Associated Child Behaviors and Experiences: A Meta-Analytic and Theoretical Review. Psychological Bulletin, 128(4), 539-579.

Lenta, P. (2012). Corporal Punishment of Children. Social Theory and Practice. 38(4), 689-716.

Martin, G. & Pear, J. (2011). Behavior Modification : What Is It and How To Do It (9th ed.). New Jersey: Pearson Education Inc.

Maurer, A. (1990). Corporal Punishment in Public Schools. The Humanistic Psychologist. 19(1), 30-47.

*Tulisan ini juga di-publish pada tanggal 17 Juni 2016, di selasar.com (https://www.selasar.com/budaya/hukuman-ala-masyarakat)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s