Belajar Toleransi dari Mal

Saya ingat dulu ketika saya kecil, baik di Jakarta, Padang, maupun Bandung, hampir seluruh restoran atau warung makan menutup gerainya dengan kain saat bulan Ramadhan. Penutupan gerai menggunakan kain ini dapat kita saksikan mulai dari warung makan kecil di pinggir jalan hingga restoran di mal. Tanpa terkecuali. Tujuannya adalah agar orang yang berpuasa tidak dapat melihat orang yang tidak berpuasa sedang menikmati santapannya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk toleransi, katanya. Saya sendiri tidak tahu apakah ada pihak yang mengatur hal ini dan apa konsekuensinya jika pada sekitar tahun 1990an itu, para pemilik memutuskan untuk tidak menggunakan kain untuk menutupi gerainya. 

Ada masanya, saat bulan Ramadhan sering ada razia yang dilakukan oleh Ormas tertentu atau Satpol PP. Hingga saat ini, berita mengenai razia terhadap warung-warung makan pinggiran masih sering kita temui. Baru kemarin saya melihat video Satpol PP merazia dan menyita seluruh makanan dari beberapa warung makan di daerah Serang dan Lebak, Banten. Makanan-makanan yang ada disita karena mereka membuka warungnya pada siang hari. Meski sebenarnya, warung-warung makan ini ada yang sudah menggunakan kain untuk menutupi gerainya. Satpol PP mengaku razia ini adalah perintah dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah menghimbau kepada warung makan sebaiknya baru membuka gerainya pada sore hari. Tujuan dari himbauan ini adalah agar tercipta toleransi dalam bermasyarakat. Toh ini sudah bukan lagi menjadi “himbauan”, tetapi menjadi “perintah” atau “larangan”.

Hal menarik yang saya amati berbeda adalah fenomena di mal-mal. Memasuki akhir tahun 2000an, saya menyadari bahwa restoran-restoran di mal sudah tidak lagi menggunakan kain untuk menutupi gerainya. Hanya beberapa restoran saja yang masih menggunakan kain. Kini (sejak tahun 2010an) jika kita masuk ke mal, maka kita tidak akan lagi menemukan restoran yang ditutupi oleh kain. Kain memang sudah tidak digunakan lagi, tapi pernahkah kita mendengar atau melihat bahwa terjadi razia, protes, atau penggerebekan yang dilakukan terhadap restoran di dalam mal? Pasti sangat jarang sekali. Terlepas dari berbagai faktor politis yang mempengaruhi (seperti “backing-an”), hal yang dapat dengan jelas kita lihat adalah toleransi di dalam mal. Di mal, orang yang sedang berpuasa dapat melewati restoran yang terbuka dengan santainya. Tidak ada orang yang marah-marah dan akan menyita seluruh makanan milik restoran. Tidak ada pula pihak yang berkoar-koar menuduh bahwa orang yang sedang makan di restoran adalah orang kafir yang intoleran. Di mal, setiap individu tampak saling menghargai satu sama lainnya. Jika ada yang tergoda untuk membatalkan puasanya, itu adalah urusan keimanannya dengan Tuhan, bukan dengan orang lain.

Kedamaian tidak akan tercipta ketika konsep toleransi dipandang berbeda oleh setiap masyarakat. Berdasarkan arti katanya, “toleran” adalah sebuah sifat atau sikap untuk menghargai, membiarkan, memperbolehkan sebuah pendapat, pandangan, perilaku, atau kepercayaan yang berbeda dengan yang individu tersebut miliki. Sekarang, hal ini dapat banyak kita lihat di mal-mal, namun masih banyak tidak terjadi di warung-warung pinggir jalan. Kehidupan bermasyarakat yang damai tidak bisa tercapai jika hanya satu pihak yang menuntut toleransi. Seharusnya, seluruh lapisan masyarakat dapat saling menghargai agama dan budaya lain. Apalagi kita tinggal di Indonesia yang mengakui setidaknya 6 agama dan ratusan budaya.

Dalam konteks ini, toleransi bisa kita dapatkan saat kita memiliki banyak informasi mengenai agama dan budaya lain. Kita mengetahui apa dan bagaimana kepercayaan mereka, apa ritualnya, atau bagaimana pandangannya terhadap budaya dan agama yang berpuasa. Kita tidak hanya dituntut untuk dapat memiliki informasi, namun juga untuk memahaminya. Kita paham apa kebutuhan dasar orang yang tidak berpuasa, yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Kita paham, bahwa selain urusan agama, masih ada keluarga yang harus dihidupi dan tagihan yang harus dibayar oleh para pemilik warung. Pemahaman ini juga bukan hanya tentang agama dan budaya lain, namun juga agama dan budaya milik kita. Kita paham bahwa esensi berpuasa bukanlah tentang mengatur umat agama lain untuk ikut berpuasa dan ikut menghambat kebutuhan mereka. Esensi berpuasa adalah untuk berlatih mengelola dorongan dari dalam diri.

Ternyata mal tidak selalu menjadi hal yang negatif dengan mengajak kita menjadi individu yang konsumtif, tetapi ada pula hal positif yang dapat kita pelajari dari mal : Toleransi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s