Eli

Kumbara pergi ke sebuah kota baru. Kota di mana cinta mengalir mengarungi sungai dan kanal yang menjalar di tengah-tengahnya. Kumbara datang sendiri tanpa ada yang ia kenal seorangpun. Orang-orang lain, baik penduduk lokal maupun pendatang, pasti bersama dengan orang yang mereka kasihi.

Ia kemudian menulis sebuah catatan hariannya :

“Di kota ini, aku menginap di sebuah rumah singgah, untuk orang-orang tak mampu sepertiku. Aku bertemu berbagai macam orang dari berbagai daerah, salah satunya Eli. Tubuhnya cilik, tak lebih tinggi dariku. Kulitnya kuning, seperti kebanyakan orang sebangsaku. Rambutnya coklat ikal. Matanya coklat tua, seperti minuman yang baru kuseduh tadi malam. Bicaranya lembut, namun mantap. Ia cenderung tertutup, tak mau banyak bercerita tentang dirinya. Bahkan ia enggan menyebutkan usianya saat awal pertemuan kami.

Pertemuan kami hanya berlangsung selama kurang dari 24 jam. Aku, Eli, dan dua orang teman baruku, Ale dan Aldo, menghabiskan waktu hingga larut bersama-sama. Aku suka dengan Eli, ia lucu. Meski tertutup, ia gemar bicara dan bercanda. Kami berbincang panjang lebar, hingga akhirnya saling membuka diri satu sama lain. Eli yang tadinya begitu tertutup, mulai menceritakan tentang dirinya. Tentang kakaknya yang seorang pecandu, tentang perhatian yang tak didapatnya di rumah, hingga tentang cita-citanya. Ia ingin menjadi seorang tentara penjinak bom! Cita-cita seorang gadis muda ini membuatku terkejut. Ada petasan kecil yang meletus di dadaku. Perbincangan mengenai diri dan hal-hal lainnya itu berlanjut hingga bulan membentuk sabit.

Pagi harinya, aku dan Eli pergi mencari sarapan berdua. Kami kembali berbincang banyak pagi itu, tentang penyesalannya, tentang kondisi tubuhnya saat ini, hingga tentang orang yang ia kasihi. Petasan-petasan di dalam tubuhku tak lagi bisa meletus, seperti petasan yang lembab terkena embun malam. Aku tahu kami terlalu berbeda, aku tahu ia sudah punya kekasih, dan aku tahu ia bercumbu dengan Ale tadi malam. Aku melihatnya.

Apapun itu, aku tetap tertarik dengannya. Aku senang melihat matanya. Aku senang dengan caranya memandangku. Aku juga suka dengan kelembutan tangannya. Ya, aku sempat memegang dan mengelus jemarinya.

Setelah mendapatkan makanan untuk sarapan, aku mengajaknya duduk di sebuah taman kecil. Sambil berbincang dan melahap roti yang baru saja kami beli, ia bilang “Ini adalah roti paling enak yang pernah aku makan sejak aku pergi meninggalkan rumah!“. Bukan, bukan karena menyantapnya bersamaku. Ia tidak tertarik kepadaku. Di sisi lain, ia percaya kepadaku. Aku adalah orang pertama di kota ini yang mengetahui usianya, alamat rumahnya, hingga pola makannya. Ia menganggap roti yang ia lahap sangat enak karena ia hanya selalu makan buah setiap hari, sejak dua bulan meninggalkan rumah.

Kami kemudian mampir ke apotek, mencari obat untuk sakit yang sedang ia derita. Ia awalnya tidak mau, karena malas mengeluarkan uang untuk itu. “Aku juga ngga akan mati kok karena sakit ini!“. Aku memaksanya dan kemudian membelikannya obat. Ia terkejut. Giliran petasan di tubuhnya yang meletus. Ia kemudian memelukku.

Matahari belum sampai di atas kepala, lalu aku mengajaknya untuk pergi melihat-lihat kota saat nanti matahari sudah mulai lelah berdiri. Ia setuju, tapi ia mengatakan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. Eli mengatakannya sambil mengeluarkan buku catatan putih dari tasnya yang berwarna jingga. Kami kemudian berjanji untuk bertemu di satu tempat, di dekat stasiun tempat aku tiba.

Aku telah sampai setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan tiba, sambil menyantap roti berisi sayuran dan ikan, aku menunggunya dengan tak sabar. Sampai waktu yang dijanjikan, Eli tak juga muncul. Aku mulai gelisah. Satu jam berlalu, aku merasa cemas. Aku lalu berkeliling untuk mencarinya, mungkin saja ia tersesat. Tapi aku tak kunjung menemukannya. Aku lalu memutuskan untuk kembali ke rumah singgah, berharap ia masih ada di sana. Ternyata tidak ada. Aku bertanya kepada orang-orang di tempat itu, termasuk Ale, katanya Eli sudah pergi. Tas jingganya pun sudah tidak ada.

Aku langsung berlari kembali ke tempat perjanjian kami. Mungkin saja ia sudah menunggu di sana. Lagi-lagi, Eli tak ada. Aku cemas, takut, sedih karena tak bisa bertemu dengannya lagi. Malam harinya, Eli akan pergi ke timur dan aku ke barat. Aku takut tak sempat mengucapkan salam perpisahan dan memberikan pelukan hangat kepadanya. Pelukan yang tadi pagi ia berikan, belum cukup bagiku. Aku berlari ke segala penjuru, mencari-cari tas berwarna jingga yang harusnya mudah ditemui. Wajahku sudah semendung langit kala itu. Setiap aku melihat sesuatu berwarna jingga, aku langsung menoleh. Warna jingga yang terlintas di mataku, tampak seperti letupan lava di kawah gunung. Memberi harapan, lalu meletus pupus. Aku berputar-putar hampir sepuluh kali dari ujung jalan ke ujung jalan lainnya. Eli tak kunjung ada. Hujan sudah akan turun, begitu pula aku. Aku mulai kelelahan karena terus berlari. Waktuku juga sudah hampir habis. Aku harus mengejar kereta ke barat.

Dari salah satu letupan lava tersebut, ada harap yang menginginkan kisah ini seperti dongeng anak-anak. Dongeng yang selalu berakhir indah. Di letupan lain, ada harap yang menginginkan kisah ini berjalan seperti komik-komik dan serial televisi. Di saat lakonnya sudah menerima pasrah, maka keajaiban terjadi.

Sayangnya ini adalah kehidupan nyata, yang tak seindah karya ciptaan manusia. Juga, ternyata ini benar perpisahan, yang mungkin selama-lamanya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s