Permainan Sang Kelaparan

Saya sangat menyukai sekuel film Hunger Games, karena isu dan cerita yang disajikan sangat menarik bagi saya. Beberapa kali saya menonton Hunger Games di HBO. Saat menonton Hunger Games: Catching Fire, saat scene awal film dimana Katniss sedang datang ke tiap distrik untuk mengucapkan terima kasihnya bersama Peeta, saya teringat sosok Joko Widodo. Sosok yang menurut saya memiliki banyak kemiripan dengan Katniss Everdeen. Baik dari latar belakang, perjalanan politik, hingga caranya mengikuti permainan politik di bangsanya masing-masing.

Katniss Everdeen awalnya hanyalah seorang wanita biasa yang tinggal di sebuah distrik ke-12 di bangsanya. Ia bukanlah siapa-siapa. Katniss akhirnya terjun ke Hunger Games karena menggantikan adiknya, Prim. Ia memilih untuk terlibat sebagai bentuk pengorbanan. Joko Widodo juga seorang rakyat biasa, seorang pedagang mebel, seorang tukang kayu. Ia memang tidak berkorban, namun ia secara sadar memilih untuk terlibat dalam perpolitikan di Indonesia. Selanjutnya, kedua tokoh tersebut mulai bermain di dalam permainannya masing-masing. Di dalam permainannya tersebut, mereka sama-sama menggunakan hatinya. Katniss selalu peduli dan merasa kasihan dengan rakyat-rakyat kecil yang dieksploitasi oleh Capitol. Jokowi pun sangat peduli dengan rakyat-rakyat kecil dan juga gemar blusukan.

Katniss menjadi harapan rakyat banyak, bukan harapan Capitol tentunya, yang hanya peduli pada kekuasaan. Burung Mocking Jay jadi simbol perlawanan rakyat terhadap penguasa. Lalu angka ‘2’, menjadi simbol harapan rakyat, setidaknya harapan lebih dari 51% warga Indonesia. Keduanya adalah tokoh yang lahir dari rakyat dan berani menantang arus. Karena itulah keduanya dicintai.

Pada sekuel kedua, Catching Fire, Katniss masih menjadi sosok yang diatur oleh Capitol. Ia dipaksa untuk menampilkan sosok yang sebenarnya bukan dirinya saat berada di depan kamera. Ia mendapat tekanan dari sebuah kekuatan yang sangat besar. Di sisi lain, ia memiliki daya tawar yang tinggi. Sebagai sosok yang dicintai rakyat Capitol dan sebagai sosok harapan rakyat Distrik. Karena daya tawar tersebut, Katniss bisa menunjukkan siapa dirinya meski hanya sedikit demi sedikit. Jika bukan Katniss, melawan secara langsung sama dengan menghabisi diri sendiri. Cinna, sang perancang busana, langsung dihabisi ketika ia membantu Katniss membuat pakaian bersimbol burung Mockingjay. Para rakyat yang mengangkat tiga jarinya ke langit, langsung ditembak mati oleh para penjaga benteng kekuasaan tersebut.

Jokowi, saat menjadi pemain di pemerintahan, juga mendapat tekanan dari penguasa dan tokoh-tokoh politik untuk bisa menuruti kemauan mereka. Bahkan hingga kini, ketika ia sudah menjadi presiden, ia harus tetap mengikuti drama yang diminta. Ia harus mempertimbangkan posisi politiknya, untuk bisa tetap fleksibel, namun tidak merugikan rakyat. Untuk tetap bisa terus maju dan tidak terhadang arus. Untuk bisa membuat kebijakan yang tetap mempertimbangkan rakyatnya. Untuk bisa mengambil keputusan yang setidaknya rakyat masih bisa merasakan sedikit keuntungan.

Jokowi memiliki daya tawar tinggi karena dicintai rakyat banyak dan didukung berbagai elemen masyarakat. Dari sesama pemain yang berhati bersih, aktivis, cendekiawan, pelajar, ibu rumah tangga, tukang nasi goreng, hingga anak-anak. Oleh karena itu, ia tidak dapat dengan mudah dihabisi oleh para penguasa-penguasa itu meski terkadang berlawanan dengan mereka. Keduanya, Jokowi dan Katniss, harus tetap memainkan drama di panggung yang disediakan, agar perubahan atau revolusi dapat berjalan dengan lebih mulus tanpa muncul konflik yang besar. Kita dapat melihat contoh pada isu yang baru saja kita dengar, yaitu penetapan Kapolri. Jokowi memilih Budi Gunawan (BG) sebagai calon tunggal, lalu BG langsung ditetapkan tersangka oleh KPK. Banyak yang percaya bahwa BG adalah “titipan” dari Ibu Megawati, entah benar atau tidak. Tapi para politisi dan penguasa lain mendukung dengan keras bahwa BG harus tetap dilantik karena sudah lolos fit and proper test dari DPR. Jokowi tetap tenang (mungkin terlalu tenang) dan membiarkan proses hukum berjalan. Di ujungnya, Jokowi secara gamblang menyatakan bahwa ia membatalkan pengajuan BG karena melihat berbagai pandangan masyarakat. Sebuah kemenangan untuk rakyat (yang ngga jelas).

Di Mockingjay part 1, Katniss adalah simbol revolusi. Tidak hanya simbol, ia juga menjadi pemimpin. Ia bergerak maju dengan lantangnya melawan Capitol. Kini, Jokowi juga sudah berada di tempat yang sama. Sebagai pemimpin. Sebagai simbol revolusi. Selanjutnya? Apakah Jokowi mampu untuk sama menjadi Katniss Everdeen yang dengan gagahnya memimpin dan berjuang demi rakyat banyak? Ataukah ia akan terjebak dalam permainan dari penguasa-penguasa yang kelaparan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s