Desember (2)

Ketika baru dibuang di balik gunung ini, jantung kami berdegup kencang. Kami senang dan kebingungan. Senang karena tak lagi disiksa, tetapi kebingungan dimana kami berada. Yang kami tahu, kami berada di balik gunung, di sebuah area lumpur berwarna abu. Rasa yang ada di diri kami tak hanya itu, kami juga marah. Ingin memberontak dan menerjang. Tetapi saat ini, tubuh kami masih terkoyak karena luka yang disebabkan oleh cambuk hitam penguasa.

Di balik gunung ini, kami menghimpun kekuatan. Bukan, bukan kekuatan seperti yang kau bayangkan. Bukan menghimpun puluhan ribu jiwa untuk memberontak. Kekuatan yang kami maksud adalah kekuatan fisik. Agar kami dapat berdiri tegak. Tak jatuh diterpa angin. Tak gentar ketika mendengar teriakan. Tak rubuh diterjang arus kapitalis. Ya, saat ini tujuan kami adalah mengumpulkan energi. Agar tidak terlalu lemah untuk mendorong anjing-anjing hitam milik penguasa yang maju dan mengejar kami.

Kami serasa kembali ke zaman saat menulis dengan batu. Saat monster raksasa masih eksis di dunia. Saat keadilan belum tercipta.

Kami memeras otak kami. Mencoba berpikir dengan kepala yang kosong. Kemudian kami teringat zaman batu yang kami rasakan tadi. Kami menirunya.

Perempuan bercocok tanam. Mencoba menanamkan berbagai jenis tanaman yang dapat hidup di tanah lumpur di desa ini. Puluhan tumbuhan yang telah ditanam, tak ada yang mau menunjukkan sedikit nyawanya dari balik tanah. Pun ada yang tumbuh, warnanya tak lagi hijau. Warnanya menjadi sama dengan Desa Tembolok. Abu.

Laki-laki berburu. Menerobos belukar, menyusur hutan, merayapi lumpur. Di tanah dan gunung yang sudah mati ini, tak banyak binatang yang hidup. Bukan tidak dapat hidup, melainkan tidak memiliki keinginan untuk hidup. Pun ada yang hidup, hanya semut, tikus, coro, kelelawar, ulat, dan binatang-binatang hitam lainnya.

Usaha yang telah dilakukan tidak menghasilkan harapan kehidupan, justru menyerap energi dan nyawa penduduk kami. Ada yang ditelan kelabu hutan. Banyak pula yang kehabisan tenaga.

Aku akhirnya mulai mencoba untuk meramu tanaman abu dan binatang-binatang hitam tersebut menjadi jamu, yang setidaknya mampu mengisi kekosongan perut anak-anak kami. Telah kucoba ratusan ramuan. Telah kucoba juga untuk kutenggak dan kutelan. Hasilnya? Tumbuhan dan binatang tersebut keluar lagi dari mulutku, yang semakin mengotori tanah Tembolok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s