Desember

Desember – ERK

Aku, seorang muda yang tinggal di sebuah desa kumuh, di balik Gunung Tembolok. Serupa dengan gunungnya, desa ini kami beri nama Desa Tembolok. Desa Tembolok berdiri 15 tahun yang lalu. Desa muda, seperti aku. Berdiri karena sebuah paksaan. Ketika seratus orang pemberontak pemerintah ditangkap, disiksa, kemudian dibuang.

Tidak seperti desa pada imaji manusia. Desa Tembolok adalah sebuah desa yang tak tampak secercah sinarpun. Desa ini gelap. Desa ini sepi. Kelam. Ratusan orang yang hidup disini tidak memiliki harapan. Mereka hanya mencoba untuk bertahan hidup. Penduduknya berbau busuk. Tidak lagi mengenal kata ‘mandi’. Penduduknya kurus kering. Kelaparan. Termasuk aku.

Jika mendaki hingga tanah tertinggi di Gunung Tembolok, kita akan dapat melihat sebuah kota. Tak jauh. Kota Naji disebutnya. Warnanya abu, namun bukan kelabu. Mengkilap, bukan gelap. Berisik, namun tak terusik. Sebuah simbol modernitas.

Kami nyaris bisa merasakan itu. Sebelum bangunan atas akhirnya menghancurkan kami.

Aku ingat, ketika aku masih merasa hidup. Ketika matahari masih berniat menerangiku.
Aku ingat, ketika aku merayakan natal dulu. Ketika aku sempat merasakan kebahagiaan. Makanan berlimpah. Tak seperti sekarang, yang ada hanya sampah.
Aku ingat, ketika di bulan Desember dulu. Ketika aku menikmati musim terdingin di negeriku. Ketika yang jatuh dari langit bukanlah salju, melainkan hujan. Ketika aku bermandikan air langit itu.

Saat ini, aku masih terus berharap untuk merasakan hangatnya bumi. Atau setidaknya merasa masih ada di bumi. Aku mencoba bersatu dengannya. Aku selalu suka hujan di bulan Desember. Yang selalu mengingatkanku apa itu bahagia.

Berulang kali aku berpikir bagaimana caranya untuk menerangi sisi gelap ini. Gerak kami dibatasi. Jumlah kami sedikit. Semangat kami tak ada. Sinar di dalam diri kami redup. Akal kami tak cukup. Enerji kami telah habis. Tak ada yang dapat menopang kami.

Aku frustrasi.
Kami semua frustrasi.

Tak ada yang dapat kami lakukan. Hanya harapan yang kami miliki, itupun kecil. Berharap dapat kembali merasakan hidup. Kala penguasa tergerak hatinya. Untuk sekedar mengintip, menengok ke arah sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s