Moral Politik

Beberapa bulan belakangan ini, jas biru penanda kekuasaan sering sekali disorot oleh media massa lokal. Bukan karena kekuasaannya, namun karena kasus-kasus korupsi yang menimpanya. Beragam kasus kecil sampai kasus besar, melibatkan para tokoh-tokoh kumpulan ini. Terlibatnya tokoh-tokoh tersebut, juga menandakan bahwa krisis dalam diri partai tersebut telah muncul. Mulai dari turunnya elektabilitas partai, sampai krisis integritas dan kejujuran para tokohnya. Minggu lalu, tepatnya pada hari kasih sayang, 14 Februari 2013, media massa menyorot mengenai kemunduran seorang anggota DPR yang juga berperan sebagai sekretaris jenderal partai Demokrat. Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab dipanggil dengan Ibas, menyatakan mundur dari keanggotaannya di DPR. Ia mengatakan bahwa ia ingin fokus terhadap krisis dan masalah yang dialami oleh partainya. Ibas merasa tidak akan dapat bekerja secara optimal jika harus fokus terhadap dua hal, di DPR dan di partai. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memilih salah satunya saja. Sebelum mundur, Ibas juga sempat disorot mengenai masalah absensinya di gedung hijau tersebut. Ia seringkali tidak hadir dalam rapat-rapat, atau bahkan hanya tanda tangannya saja yang hadir, namun tidak dengan fisiknya. Ah, atau jangan-jangan ia hanya ingin bernostalgia bagaimana rasanya saat menjadi mahasiswa?

Keputusan Ibas untuk mundur dari DPR banyak didukung oleh pakar-pakar politik. Ia dinilai tepat dalam mengambil keputusan. Ayahnya, presiden SBY, juga mendukung dan mengaku bangga terhadap keputusan anaknya itu. Langkah yang diambil oleh Ibas, secara praktis memang tepat. Ia sebaiknya mundur dari anggota DPR dan fokus pada masalah partainya, karena memang posisi ibas di partai Demokrat merupakan posisi yang strategis dan krusial. Sedangkan kursi nyaman di gedung DPR bisa saja digantikan oleh kader-kader lain yang jumlahnya tak terhitung oleh jari manusia. Mudah mencari pengganti anggota DPR, tapi tidak mudah mencari pengganti Sekjen. Itulah alasan praktis yang dapat mendukung keputusan Ibas. Tapi saya tidak berpandangan bahwa hal tersebut tepat dilakukan oleh Ibas. Secara praktis tepat, tapi bagaimana dengan pengambilan keputusan secara moral? Ibas adalah seorang anggota DPR yang dipilih oleh rakyat banyak. Ia dinilai mampu (mampu secara materil atau kompetensi ya?), untuk duduk di kursi nyaman gedung hijau, Senayan. Tetapi ia mengkhianati kepercayaan rakyat banyak tersebut. Ia seringkali tidak hadir di gedung hijau tersebut, ia mangkir dari rapat-rapat, dan kini ia mau mengundurkan diri dari tempat para penguasa itu. Di sisi lain, secara tidak langsung, Ibas lebih memilih untuk mengurusi partainya dibanding mengurus bangsanya. Apakah secuil jas biru tersebut lebih bermakna dibanding ratusan ribu kilometer tanah dan air Ibu Pertiwi?

Berbagai pertanyaan lalu muncul dalam benak saya, apakah politik itu hanya berfokus pada kerja praktis? Jika jawabannya adalah ‘Ya’, dan moral hampir selalu tidak dipertimbangkan, apakah bangsa ini akan berkembang dan tumbuh besar dengan hati yang bersih? Ataukah sebenarnya, inilah ‘moral politik’? Moral yang berfokus pada langkah-langkah praktis, tanpa menggunakan nurani. Jika jawabannya adalah ‘Ya’, pantas dunia politik itu begitu kotor dan nistanya.

Advertisements

1 Comment

  1. jadi inget, belakangan ini di Gramedia dijual buku yang judulnya “Politik itu Suci”.

    gw antara tertegun dan pengen ngeludah, tapi well, dari jaman Roma dulu, yang namanya politik kan buat merebut kekuasaan, gimana sucinya sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s