Dosa

Akhir tahun 2012 ini, diri saya lagi-lagi terusik dengan informasi, berita, ataupun fatwa yang secara tidak langsung (atau mungkin langsung) merusak persatuan dan persaudaraan bangsa ini. Ya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang umat muslim untuk mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani. Saya sebelumnya tidak pernah mau tahu tentang pandangan-pandangan agama yang kontroversial. Begitupula saat saya mendengar berita tentang hal ini, saya tak acuh terhadap berita tersebut. Kemudian, impuls saya untuk menulis menjadi tak terbendung karena saya kembali terusik pada saat saya sedang shalat Jumat, pada hari Jumat terakhir di tahun 2012. Isi khotbah pada saat itu menurut saya juga cukup kontroversial. Ustadz tersebut mengatakan bahwa umat muslim harus menghindari perbuatan-perbuatan musyrik. Musyrik yang dimaksud adalah mempercayai suatu hal selain Allah dan juga yang tidak jelas atau tidak nyata. Salah satu contoh menurut beliau adalah perayaan malam tahun baru. Menurutnya, malam tahun baru merupakan malam yang sama dengan malam-malam pada hari biasa, perayaan tersebut juga adalah karangan subjektif manusia.

Sebelumnya saya juga pernah memiliki pengalaman serupa. Sekitar satu hingga dua tahun yang lalu, saya sedang shalat Jumat di dekat kampus. Kemudian isi khotbah tersebut malah menjelek-jelekan agama lain. Pada saat itu saya merasa kesal, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa. Jika mengikuti hati, saya akan memilih untuk pindah masjid dan shalat di masjid lain tersebut. Untuk apa mengikuti imam yang memiliki visi yang tidak sama dan memiliki pandangan negatif terhadap umat lain? Itu sama saja munafik dengan diri sendiri. Tapi lagi-lagi saya hanya diam, tak acuh, duduk, dan mengikuti ritual keagamaan tersebut sampai selesai.

Saya selalu bingung ketika menghadapi informasi kontroversial seperti tiga kejadian yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Kebingungan saya inilah yang menyebabkan saya selalu bersikap tak acuh pada hal-hal semacam itu. Selama ini saya hanya menjalankan ibadah dan juga ajaran melalui informasi-informasi yang sudah saya ketahui sejak kecil, ditambah dengan logika dan hati nurani manusia. Saya bingung, bagaimanakah ajaran agama yang yang lahir ribuan tahun lalu tersebut diterapkan dan diaplikasikan pada zaman sekarang ini. Apakah harus sesuai dengan textbook melalui kitab atau wahyu yang sudah diturunkan? Ataukah boleh disesuaikan dan diadaptasi dengan zaman sekarang? Kepercayaan manusia tentang penyesuaian dan adaptasi tersebut melahirkan JIL (Jaringan Islam Liberal), kelompok yang mengedepankan pluralisme dan memiliki nilai utama ‘kebebasan’. Mereka berusaha mengaplikasikan ajaran agama tempo dulu ke peradaban manusia zaman sekarang. Kelompok ini dicerca dan ditolak mentah-mentah oleh mayoritas kaum muslim. Tetapi bukankah ‘benar’ dan ‘salah’ juga merupakan konstruksi subjektif manusia?

Seiring berjalannya waktu, saat ini banyak sekali budaya-budaya, tradisi, ritual, dan juga gaya hidup yang sudah sangat bertentangan dengan ajaran ‘textbook‘ agama. Terlepas dari benar atau salah, namun saya yakin bahwa akan banyak sekali fatwa atau anjuran-anjuran yang dikeluarkan bersifat kontroversial (versi saya). Jangan-jangan, nanti apapun yang kita lakukan pada zaman sekarang ini adalah perbuatan maksiat, musyrik, dan juga menghasilkan dosa. Kemudian, jangan-jangan di akhir hayat nanti manusia bukan dihitung berat amalnya, namun ringan-ringanan dosanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s