Mahasiswa

Calon Cendekiawan
Mahasiswa, adalah sebuah sebutan bagi individu yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa berasal dari dua kata, maha dan siswa. Maha artinya tinggi, dan siswa artinya pembelajar. Artinya mahasiswa adalah pembelajar yang sudah mencapai level tinggi. Menjadi mahasiswa lebih dari sekedar menjadi pembelajar. Pada tahap ini, individu dapat mengembangkan dirinya di sebuah tempat bernama universitas. Individu dapat mengembangkan soft skill, hard skill, sampai karakter pribadi. Tidak hanya satu-persatu dari bagian itu, melainkan secara holistik. Kurikulum, kebijakan, peraturan, dan juga atmosfer pada lingkungan universitas inilah yang membantu para individu mengembangkan dirinya.

Pertanyaannya adalah : “Kenapa anda menjadi mahasiswa?”, “Apakah kemauan anda sendiri?”, “Ataukah menjadi mahasiwa merupakan ‘jalur’ yang wajib anda tempuh?” Sebuah jalur yang telah distandardisasi oleh lingkungan kita (dalam hal ini terjadi di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, dll). Menjadi mahasiswa lebih dari sebuah langkah menaiki tangga. Menjadi mahasiswa adalah langkah menuju pertarungan. Ya, pertarungan intelektual. Mahasiswa adalah para calon cendekiawan muda.

Di Indonesia
Kelompok mahasiwa di Indonesia cukup dianggap penting oleh masyarakat luas dan juga pemerintah. Pengakuan ini berhasil didapatkan berkat perjuangan dan kontribusinya saat tahun 1960an, dan juga tahun 1998. Usaha ratusan, bahkan ribuan mahasiswa itu berhasil mendesak pemerintah untuk menyerah dan menggulingkan dirinya. Sorak pengakuan juga didapatkan karena harga yang harus dibayar cukup mahal. Darah ratusan mahasiwa bersimbah di jalanan, bahkan ada yang sama sekali tak bersimbah, darahnya hilang entah kemana.

Cita-cita para mahasiswa tersebut sejatinya, sungguhlah arif. Terpuji pula, karena telah berani untuk turun ke jalan membela kepentingan rakyat dan juga masyarakat luas. Hingga saat ini, cita-cita tersebut masih terlihat di dalam jiwa para mahasiswa. Banyak sekali demonstrasi-demonstasi yang dilakukan sebagai bentuk protes, kritik, dan juga ekspresi penolakan kepada pemerintah atau institusi tertentu. Sayangnya, perjuangan-perjuangan tersebut mungkin secara tidak sadar dan juga secara mentah diterima sebagai perjuangan fisik semata oleh masyarakat saat ini. Mereka menganggap bahwa perjuangan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa tersebut lebih mementingkan kekuatan dan kehadiran fisik, tanpa menggunakan logika dan nurani.

Absennya logika dan nurani ini terasa seperti kehilangan filter perilaku agresi. Seringkali para mahasiswa yang turun ke jalan tersebut berperilaku vandalis. Visinya yang mendukung rakyat, justru malah sekaligus merusak kepentingan rakyat banyak. Tidak hanya kepentingan dan fasilitas yang dirusak, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa. Masyarakat kini tidak lagi percaya terhadap aksi-aksi mahasiswa. Mereka kini takut terhadap hal tersebut. Buktinya? Pada tahun 2012 ini, beberapa kali terjadi aksi demonstrasi yang cukup besar, dan yang terjadi adalah : jalanan sepi, kosong. Jakarta lancar. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat takut dan tidak ingin bersentuhan secara langsung terhadap aksi demonstrasi. Ketakutan dan ketidakpercayaan masyarakat juga terlihat dari kecaman golongan menengah atas terhadap aksi tersebut. Mereka mengecam aksi demonstrasi tersebut dengan mengatakan “Ngapain sih demo panas-panas? Mending di rumah tidur”, “Bikin tambah macet aja sih!”.

Tapi coba bayangkan, jika aksi-aksi demonstrasi tersebut tidak dilakukan oleh para mahasiswa atau organisasi-organisasi yang perduli terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Mau dikemanakan uang rakyat kita oleh para binatang di gedung hijau itu? Jangan hanya berbicara tentang macet dan kenyamanan pribadi. Jika tidak ada para demonstran tersebut, suara rakyat, atau bahkan suara anda, tidak akan didengar oleh bos-bos yang duduk di kursi nyaman tersebut. Aksi ini adalah salah satu bentuk kontrol masyarakat terhadap pemerintahan. Agar pergerakan kebusukan mereka tidak terlampau nistanya.

Polos
Mahasiswa adalah golongan muda yang masih polos. Hatinya masih putih. Mereka masih belum tercemar dengan kepentingan-kepentingan materil-duniawi. Keputihan mahasiswa ini menimbulkan beberapa pendapat, salah satunya adalah “Mengapa tidak membangun partai mahasiswa saja?”. Saya tidak setuju dengan hal ini. Seberapapun putihnya mahasiswa, jika diberi kesempatan untuk terjun ke lumpur politik, pasti akan kotor jua. Hal ini terjadi dalam organisasi kemahasiswaan di beberapa universitas. Untuk mendapatkan jabatan tertentu, yang mendapatkan priviledge besar, seperti mobil dinas, beasiswa, dll, orang tersebut harus melakukan kampanye besar-besaran ke seluruh fakultas di kampusnya. Nepotisme dan juga politik uang terjadi selama proses kampanye tersebut.

Politik pada level organisasi kemahasiswaan saja sudah sekotor itu, apa yang terjadi jika para mahasiswa terjun ke dunia politik negara ini? Saya tidak akan percaya bahwa mereka akan tetap putih bersih. Jika hal ini terjadi, mahasiswa tidak lagi dapat melakukan kontrol terhadap pemerintah. Jika pemerintah tidak lagi ada yang mengontrol, entah akan dibawa kemana negeri kita ini. Karena, meskipun tidak dapat dikatakan seluruhnya, tetapi para pelaku politik di gedung hijau tidak sepantasnya disebut dengan wakil rakyat. Mereka adalah wakil partai. Individu-individu yang mementingkan kelompoknya. Untuk itulah penting adanya kontrol dari rakyat.

Kampus
Oleh karena itu, universitas dan mahasiswa adalah tempat dan juga sosok yang sangat ideal untuk melakukan kontrol-kontrol terhadap pemerintah. Tidak harus turun ke jalan, banyak pergerakan-pergerakan lain yang dapat dilakukan dalam usaha mengontrol pemerintah. Disaat yang sama para mahasiwa juga dapat mengembangkan dirinya, mematangkan dirinya, untuk menjadi individu yang komplit secara holistik.

Mari kita pertahankan semangat dan kepolosan mahasiswa. Dengan mempertahankan itu, kepercayaan masyarakat akan terbangun kembali. Mahasiswa akan kembali menjadi kelompok yang dianggap penting dan berpengaruh oleh masyarakat. Sehingga pada akhirnya dapat menjadi harapan bagi kemajuan bangsa ini.

“Kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia” -Soe Hok Gie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s