Semu

67 tahun sudah kita terbebas dari jajahan negeri merah putih (+biru). Masih terhitung muda bagi sebuah bangsa. Bangsa muda ini diberi label ‘negara berkembang’. Memang, negara ini masih sedang dalam proses untuk menjadi negara yang ‘kuat’, baik secara ekonomi, sosial, politik, pertahanan, kesehatan, dan lain-lain. Oleh karena masih ‘berkembang’, maka tentu banyak sekali aspek-aspek yang masih perlu dibenahi. Oleh karena masih ‘berkembang’, negara ini justru berhasil meningkatkan kekuatan ekonominya, saat dunia sedang berada dalam krisis ekonomi. Oleh karena masih ‘berkembang’, rakyat dari negara ini tidak sepenuhnya mencintai bangsanya. Mereka menuntut negara yang sudah mapan, kuat, dan layak dihidupi. Seperti laiknya gambar-gambar bergerak yang berada di kotak mesin, di negeri barat nun jauh disana.

Tetapi, tahun ini adalah perayaan ke-67 bangsa ini. Tidak terlalu meriah memang, karena diiringi oleh dekatnya tahun baru Hijriah. Namun tetap diliputi oleh ucapan selamat, doa, dan juga harapan. Seolah sedang merayakan hari jadi seorang kawan bersama si Chaki. Tidak tertinggal juga kritik dan pandangan sinis dari sebagiannya. Bahkan, ada kelompok yang mengatakan bahwa “anda datang ke pestanya pasti cuma hari ini saja, besok sudah lupa, dan hanya akan ngomongin di belakang”. Nasionalisme semu. Itu kata yang digunakan oleh kelompok ini kepada para undangan ‘munafik’ itu.

Nasionalisme semu tidak hanya ditemukan saat hari kemerdekaan bangsa saja, kata ini juga dapat kita temui saat event-event olahraga yang melibatkan atlet bangsa kita. Sebut saja Sea Games, Piala Asia, Tiger Cup, Asean Cup, dan lain-lain. Nasionalisme semu hanya bertahan satu hari. Tidak kontinu. Saya pribadi, bukan tidak mau dimasukkan kedalam kelompok semu tersebut, tapi saya selalu mencintai bangsa ini, sepanjang hari-hari yang saya lalui. Saya bukan orang yang hanya mengubah display name bbm saya dengan bendera Indonesia pada tanggal 17 Agustus saja, saya memasangnya selama bertahun-tahun. Saya tidak hanya heboh pada saat Timnas Indonesia bermain pada event besar, saya mendukungnya setiap saat. Saya tidak hanya ingin ke raja ampat, saya ingin berkeliling Indonesia. Saya memiliki optimisme terhadap bangsa ini. Saya percaya bahwa negeri ini memiliki potensi yang sangat tinggi, namun belum tergali. Jika sudah ada yg berhasil tergali pun, belum dapat di manage dengan baik.

Banyak sekali masyarakat, setidaknya rekan-rekan yang saya kenal, sudah tidak lagi memiliki optimisme terhadap bangsa ini. Mereka sudah menyerah terhadap dera masalah, konflik, dan kompleksitas negeri ini. Sedangkan munculnya kata ‘Nasionalisme Semu’ ini, secara tidak langsung, membatasi rasa nasionalisme kita. Kelompok ‘pencipta’ kata ini menganggap bahwa para golongan semu, yang heboh pada satu hari saja, adalah kelompok konformis, ikut-ikutan, dan tidaklah tulus. Tetapi bukankah memang dari hal atau event seperti itu rasa kecintaan kita terhadap bangsa dan tanah air kita tumbuh? Jika rasa mencintai dan bangga terhadap bangsa sendiri saja sudah dinilai negatif, melalui celah mana lagi kita dapat menunjukan cinta?

Rumput tetangga pasti lebih hijau dibanding rumput sendiri
Kini, nasionalisme tiap warga tergerus karena kondisi-kondisi yang terjadi di negeri ini. Tidak efisiennya birokrasi pemerintah, pejabat yang sekotor binatang, kendaraan yang terhenti di jalan, akses kesehatan yang terbatas, pendidik yang belum mumpuni, adalah sebagian contoh dari kondisi itu. Jika nasionalisme warga memiliki korelasi positif dengan kepuasannya terhadap negara ini (sosial, politik, kesehatan, birokrasi, dll), mungkin nasionalisme itu hanya impian.

SBY mengatakan bahwa negara ini akan menjadi negara maju saat umurnya mencapai usia 200 tahun. Artinya masih 133 tahun lagi hingga negara ini benar-benar kuat dan dapat meminimalisir dera masalah tersebut. Negara berkembang ini membutuhkan pemimpin yang optimis dan realistis, untuk dapat mempercepat waktu 133 tahun itu. Sedangkan menurut artikel Kompas 18-8-12 (berdasarkan pidato presiden SBY selama menjabat), SBY saat ini adalah pemimpin yang optimis tetapi tidak realistis. Optimisme yang sudah tergerus ini harus kita pupuk kembali, untuk dapat berhasil mencapai negeri impian.

133 tahun bukanlah waktu yang singkat. Pada tahun tersebut mungkin kita sudah tidak menginjakkan kaki lagi di bumi ini. Waktu itu adalah masanya anak cucu kita. Jadi, jika kita mengharapkan negeri, yang mapan, kuat, dan sangat layak ditinggali saat kita hidup, mungkin bukan sekarang saatnya. Tugas kita saat ini adalah dengan membangun optimisme dan tentunya juga gerakan-gerakan untuk memajukan negeri ini. Gerakan atau langkah kecil pasti sangat berarti bagi kemajuan negeri ini. Jika 240 juta langkah cilik sama-sama bergerak, pasti negeri impian yang kita dambakan bukanlah sebuah hal yang semu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s