Oak

Aku, sebatang oak. Yang tertanam tegak menantang angin. Berdiri di alam liar, di bumi tumbuhan. Bersama dengan jenis dan rupa yang jumlahnya tak dapat dinominalkan. Aku termasuk tanaman yang kuat, berdiri dengan gagahnya, tak gentar meski diterpa angin. Badai pun sudah kutaklukkan, sendiri. Jenis lain? Menghadapi semilir saja sudah bergetar. Takkan mereka kuat menghadapi terpaan angin. Bagiku, panas-dingin bukanlah suatu perkara. Dimanapun, bagaimanapun, kapanpun, aku dapat berdiri kokoh selama ratusan tahun lamanya.

Di bumi tumbuhan ini, aku mengetahui satu leluhurku dengan jenis yang sama denganku. Meskipun sekarang ia sudah tercabut dari bumi, tapi di tanah tempatnya tertanam masih terdapat bekas. Bekas perjuangannya melawan terpaan angin keras. Zaman dahulu, terpaan angin jauh lebih kencang dibanding saat ini. Namun ia sanggup menghajar angin-angin tersebut tanpa ragu. Sendiri.

Lalu, apa bedanya antara ia dan aku?
Kami satu jenis.
Kami sama-sama berdiri tegak dan sedia menantang angin.
Kami sama-sama berjuang, sendiri.

ah, kami tak berbeda” pikirku.

Leluhurku adalah sebuah batang kayu yang memiliki banyak cabang yang menempel pada tubuhnya. Sambil dihiasi oleh dedaunan yang meramaikan, juga memperindah dirinya.

Rimbun, dan indah” itu komentarku saat melihatnya.

Gajah di depan mata memang suka tak terlihat. Ternyata perbedaannya sungguh sangat kentara. Memang di bumi tumbuhan ini kami tak dapat melihat diri sendiri, seperti yang dilakukan di bumi manusia, menggunakan cermin. Tapi aku menyadarinya saat tetesan air langit turun dengan ramainya. Aku dapat melihat diriku sendiri, melalui pantulan air langit itu. Samar memang, tapi dapat disadari.

Ternyata, aku hanya sebuah batang kering. Dengan sedikit cabang, tanpa dedaunan. Melihatnya pun aku malu. Tak pantas disandingkan dengan leluhurku.

Kegundahan hati setelah melihat diri ini, membuatku goyah. Kini angin semilir saja dapat membuat batangku retak. Lapuk. Dan aku jijik dengan diriku sendiri.

Mengapa aku tak seindah itu? Kukira aku sudah sempurna!

Aku marah terhadap langit dan tanah, yang kukira sudah merawatku dengan baik hingga sebesar ini. Kukira aku berhasil melewati panas dan dingin, ternyata itu hanya membuat dedaunanku rontok. Kukira aku tak sekedar batang kayu, ternyata hanya kapas lembek.

(gambar diambil dari http://sabrinahenry.com/wp-content/uploads/2010/02/lone-tree-horizontal.jpg)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s