Karbitan

Beberapa tahun belakangan ini, sering terdengar kata ‘fans karbitan’. Kata ini sering terdengar di dunia sepak bola, lebih spesifik lagi, dunianya pecinta sepak bola Indonesia. ‘Fans karbitan’ adalah kata yang disematkan kepada individu atau kelompok yang secara ‘mendadak’ menyukai atau bahkan mencintai suatu klub. Lalu, mengapa disebut ‘fans’ karbitan, dan bukan ‘supporter‘ karbitan? Karena fans ‘hanya’ mencintai. Supporter mendukung. Seorang fans mungkin saja meninggalkan klub yang ia cintai, saat klub tersebut sedang berada pada masa kelamnya. Tetapi supporter, seharusnya, masih mendukung klub tersebut pada masa apapun. Baik susah maupun senang. Hal inilah yang tidak terlihat pada para karbitan.

Biasanya klub yang dicintai oleh para karbitan adalah klub yang sedang jago, atau baru saja membeli pemain-pemain mahal dan juga memiliki materi yang baik. Sebut saja Chelsea, Barcelona, Manchester City, Timnas Spanyol, atau yang paling baru saat ini, Paris St. Germain (PSG). Klub-klub tersebut adalah yang beberapa tahun belakangan sedang hebat-hebatnya. Beberapa dibeli oleh pengusaha kaya raya, dengan harta melimpah, yang takkan habis sampai 7 turunan. Klub-klub tersebut dapat membeli pemain bintang, kelas dunia, dengan banderol digit yang sangat banyak. Tidak hanya pemain, klub juga dapat memilih manager dengan harga selangit. Mourinho, AVB, Ancelotti, Mancini, dan lain-lain. Tumpukan kertas uang tersebut secara tidak langsung, dapat membeli prestasi. Lihat saja Chelsea, setelah 50 tahun tidak merasakan gelar juara, akhirnya ia membuka kembali lemari trofinya. Sama halnya dengan Manchester City, dan juga mungkin akan diikuti oleh PSG pada musim depan.

Prestasi. Suatu pencapaian, keberhasilan, prestis, yang memang selalu diinginkan oleh setiap orang (ya, pada dasarnya setiap orang memiliki need of achievement pada dirinya). Prestasi ini pula yang menjadi cacing umpan bagi para pecinta sepak bola. Maka dari itu, muncul lah kata ‘fans karbitan’. Seseorang yang berorientasi pada present-achievement sebuah klub.

Sangat wajar adanya jika muncul fans baru pada suatu klub. Dan sangat wajar pula jika para tetua pecinta sepak bola, benci kepada para fans-fans baru dari suatu klub yang baru saja jago. Tetua-tetua tersebut menganggap bahwa fans tersebut adalah orang-orang yang baru mengerti sepak bola, glory hunter, dan lain-lain. Kemudian ditimpali kembali oleh orang baru, dengan membanggakan prestasinya pada saat ini, sambil menjelekkan dan menjatuhkan klub lain. Lalu ditimpali lagi dengan bercerita tentang sejarah klub para tetua tersebut. Perdebatan ini tentu takkan ada habisnya. Saling serang dan bertahan. Dan akan terus berputar.

Siapa yang benar dan siapa yang salah?

Menurut saya tidak ada yang benar, dan juga tidak ada yang salah. Ah diplomatis sekali, tapi betul adanya. Oya, saya jadi teringat pendapat rekan saya di twitter, saat semua orang sedang mencaci-maki fans karbitan dari sebuah tim yang baru saja juara. Ia mengatakan bahwa ‘kalo gitu semua fans awalnya karbitan dong ya? Baru lama-lama jadi fans beneran‘. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Tidak ada salahnya jika seseorang mendukung sebuah tim karena ia baru saja jago, atau baru saja juara. Coba anda bayangkan, bagaimana nasib sebuah tim yang sangat hebat, memenangi hampir seluruh pertandingan, meraih banyak trofi, merajai dunia, tetapi tidak memiliki fans satupun? Apakah dunia ini hanya berhenti pada sejarah?

Advertisements

1 Comment

  1. Setuju bro. Saya aja penggemar bayern muenchen yg berkomentar di situs goal.com malah diejek fans dadakan/karbitan oleh fans chelsea. Padahal chelsea adalah klub karbitan sejati contohnya sebelum era abramovich chelsea sdh 49 tahun puasa gelar epl (5 tahun lebih lama dari city)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s