Perspektif

Berkembang
Seiring dengan berjalannya studi saya di universitas, saya merasa mendapatkan insight-insight yang seakan mengharuskan saya untuk dapat berempati, atau setidaknya memahami sedikit, tentang sesuatu hal dari sudut pandang orang lain. Mungkin agak rumit memahami kalimat ini. Tapi begini contohnya ; misalnya saya sedang berada pada suatu diskusi atau pembicaraan tentang… sebut saja, tentang budaya di papua. Saya pernah diceritakan bahwa di Papua, khususnya di daerah asli, masih ada ketua suku yang memiliki banyak istri dan istrinya mau melakukan apapun kepada sang kepala suku. Ini hal biasa di Papua, tetapi pada orang Jakarta, mungkin mereka akan bilang “wah aneh banget itu cewe, mau aja dipoligami“. Contoh lain yang lebih simple dan pada kehidupan sehari-hari, misalnya tentang cara bicara dan atau logat seseorang. Saat saya menonton film yang lagi hits saat saya menulis ini (baca : The Raid), ada salah satu adegan dimana penjahat tersebut berasal dari timur Indonesia, mungkin lebih khususnya, orang Papua. Ia berbicara menggunakan logat daerahnya, dan ironisnya satu bioskop tertawa mendengar dan melihat pembicaraan tersebut, tapi saya sama sekali tidak tertawa. Di satu sisi, saya tahu kalo memang logatnya sedikit lucu. Namun di sisi lain, saya dapat membayangkan jika ada orang Papua yang sedang menonton film tersebut dan satu bioskop dengan saya. Apa rasanya? Ditertawakan tentang hal yang melekat pada dirinya. Lagipula menurut saya sendiri, toh tidak ada salahnya memiliki logat Papua.

Saya memiliki contoh yang sedikit lebih ekstrim. Suatu saat saya sedang duduk di kampus dengan beberapa teman saya. Saya sedang makan, dan teman saya sedang berdiskusi tentang suatu ormas Islam di Indonesia. Ia bercerita tentang kejadian yang diceritakan oleh seorang dosen saya. Ceritanya, pada suatu hari, ada seseorang yang ingin meneliti tentang suatu hal pada tubuh ormas tersebut (sejujurnya saya kurang faham konteks dan tujuannya) kemudian ia harus memasuki ‘markas’ ormas tersebut untuk mendapatkan informasi. Saat itu ia datang dengan kemeja dan celana jeans. Kemudian ia langsung diusir oleh penjaga gerbangnya. Sambil melihat pakaiannya, penjaga tersebut mengatakan “Amerika, keluar!“. Kemudian ia pergi. Esoknya ia datang kembali menggunakan baju koko dan celana putih. Sekali lagi, penjaga tersebut mengatakan “Amerika, keluar!“. Ternyata ia menggunakan sepatu pantofel. Itu adalah sepenggal ceritanya. Namun yang menjadi fokus saya adalah, teman saya yang sedang mendiskusikan tentang hal ini mengatakan bahwa ormas tersebut sangat kaku, ‘apaan sih‘, ‘segitunya banget‘, ‘aneh’, tertutup, dan lain-lain. Saat itu saya merasa terganggu dan kesal sebetulnya, tapi hanya saya pendam di dalam hati. Lagi-lagi secara otomatis saya langsung berpikir jika saya berada pada sudut pandang ormas tersebut. Saya merasa hal yang bagi teman-teman aneh tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang aneh. Mereka, memiliki nilai sendiri pada budaya dan lingkungan sosialnya.

‘Aneh menurut lo, belum tentu aneh menurut orang lain’.
Segalanya relatif. Itu yang menjadi pakem saya dalam melihat suatu permasalah atau apapun yang berkaitan dengan perspektif. Saya jadi terbiasa melihat ‘setiap orang berbeda’. Sehingga hasilnya, saya dapat menerima orang lain apa adanya. Yaaa, meski tidak nerima-nerima banget sih. Penerimaan pada diri saya tersebut terkadang membuat saya merasa bingung. Pendapat lingkungan sosial menyatakan ‘tidak’, namun didalam hati saya berkata ‘ya’. Terkadang saya terlalu lelah untuk memperdebatkan perbedaan norma pada level individu dan pada level kelompok. Mungkinkah budaya di kelompok saya, atau jakarta, atau bahkan indonesia belum dapat terlalu menerima perbedaan? Padahal indonesia dikatakan pluralis. Bahasanya ratusan, sukunya ratusan, pulaunya ribuan. Semoga hal ini hanya terjadi di sekitar saya saja. Sehingga indonesia bisa dapat menjadi negara yang benar-benar dapat menerima perbedaan dan juga dapat melihat suatu masalah atau fenomena dari berbagai perspektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s