Kembali

Indonesia, negeri yang telah lewati 60 tahun hidupnya ini disebut oleh dunia sebagai ‘negara berkembang’. Yaa, setidaknya tidak sampai disebut negara mundur atau negara terbelakang sih. Pak Presiden tiga huruf kita ini memang cukup berjasa dalam mengembangkan ekonomi negeri kita ini. Kekuatan partainya juga terhitung kuat sebagai partai muda. Beberapa tahun lalu, ia dinilai cukup baik dalam menjalankan visinya, memberantas korupsi yang nyaris menjadi darah daging negeri. Ia sempat dianggap berani dalam menangkap besan-nya. Itulah beberapa sinar pak beye selama memimpin. Selanjutnya? Penilaian masyarakat terhadap pemerintahannya berubah menjadi negatif dan turun drastis.

Penilaian masyarakat yang negatif itu bahkan berevolusi sampai pada level, kalau bahasa arabnya, suudzon, atau memiliki prasangka buruk terhadap pihak lain. Hal tersebut sangat mudah kita temui di kehidupan sehari-hari. Apakah anda sadar? Belum tentu. Mungkin anda juga merupakan bagian dari pelaku tersebut. Sampai disini kesannya saya malah mendukung pemerintah ya? Bukan begitu, suudzon atau prasangka buruk tersebut bisa saja benar, tapi bisa saja salah. No one knows. Suudzon yang sering diungkapkan sebagai contoh, saat terjadi galian-galian di jalanan. Galian yang membetulkan gorong-gorong, atau kabel, atau apapun itu. Masyarakat banyak yang mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan hanya sebagai media untuk mencari uang saja. Akal-akalan pemerintah saja. Padahal kalau misalnya di masa depan jalanan ini banjir, atau ada yang salah akibat dr kabel-kabel tersebut, pemerintah lagi lah yang salah. Tidak bisa merawat katanya, cuek, uangnya dikemanakan, dan lain-lain.

Contoh lain, berita-berita di televisi tentang kasus apapun, seringkali dianggap sebagai pengalihan isu. Dari narasumber terkenal, sampai tukang ojek, menganggap berbagai kasus yang muncul sebagai pengalihan. Yaa, memang mungkin saja berita-berita tersebut merupakan ‘alat’ yang digunakan untuk pengalihan topik, tapi jadinya malah terlalu banyak sekali alat-alat yang digunakan untuk pengalihan ini. Padahal bisa saja berita-berita tersebut benar adanya, memang patut dan layak dijadikan berita oleh media. Atau mungkin kata ‘pengalihan’ sudah terlalu sering dipakai oleh media? Sehingga berbagai kalangan, dari atas sampai bawah, bisa mengatakan bahwa berita baru adalah pengalihan.

Suudzon berikutnya adalah ketika anggota DPR datang ke Jerman dan Ceko. Mereka disambut oleh PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Bukan disambut dengan cara baik, tapi langsung ‘ditembak’ dengan penolakan frontal dari para pelajar disana. Bapak-Ibu wakil rakyat tersebut dinilai memboroskan uang negara. Mereka juga sempat diikuti oleh para pelajar, dan terlihat sedang berbelanja di pusat kota. Jika mau dilihat, sebenarnya perjalanan bapak-bapak Ibu-Ibu ke luar negri sudah dianggarkan dan memang sudah direncanakan. Untuk masalah belanja, siapa yang tau kalau uang yang dipakai adalah uangnya sendiri? Bukan uang negara. Memang betul bahwa bapak ibu tersebut dinilai boros karena mereka juga mengajak keluarga intinya. Kalau anak istrinya bayar sendiri ya monggo, kalo ngga, itu baru masalah.

Contoh-contoh diatas adalah beberapa fenomena dan masalah yang cukup terlihat sehari-hari. Belum tentu yang terjadi seperti itu. Tapi kita sudah memiliki prasangka terhadap pihak lain, dalam hal ini pemerintah. Ketidakpercayaan yang ada saat ini tentu merupakan akibat dari kejadian-kejadian sebelumnya. Tentang bagaimana pemerintah berperilaku, bersikap, dan juga mengambil keputusan. Sekarang, banyak teman-teman saya yang sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintah. Ini adalah hasil dari kekecewaan yang kumulatif.

Kedepannya, pandangan negatif itulah yang akan sulit diubah. Apapun tindakan atau keputusan yang diambil oleh pemerintah, mayoritas masyarakat akan tidak percaya. Siapapun pemimpinnya, jika ketidakpercayaan ini belum hilang juga, tidak akan ada pergerakan. Apa yang dapat kita lakukan? Kembali menumbuhkan rasa percaya pada diri kita terhadap pemerintah. Tentu sulit. Mungkin kita perlu kejujuran, hati nurani, atau apapun itu yang ada di dalam buku PPKn zaman kita bocah. Kembali menjadi bocah polos. Kembali menjadi putih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s